dilipost.com
ADVERTISEMENT

Headlines News

Ads

Ekonomi

Video

Sunday, 30 August 2026

UNHAS Akan Menganugerahi Gelar Doktor Kepada Xanana Gusmão


UNHAS Akan Menganugerahi Gelar Doktor Kepada Xanana Gusmão (Foto: dilipost.com)

DILIPOST.COM - Peristiwa besar akan berlangsung pada 5 September 2026 di Baruga AP Pettarani Universitas Hasanuddin. Kay Rala Xanana Gusmão akan menjadi perwakilan dari siswa Unhas.

 

Dia tidak berdiri sebagai Perdana Menteri Timor-Leste atau orang penting di Asia Tenggara, tetapi sebagai seseorang yang dihormati di Universitas Hasanuddin.

 

Unhas akan memberikan gelar Doktor Kehormatan kepadanya hari itu. Xanana dijadwalkan menyampaikan pidato ilmiah bersama Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik sebelum Rektor Unhas menyerahkan ijazah.

 

Pilihan Unhas untuk Xanana memiliki sesuatu yang menarik. Universitas menemukan pengetahuan dalam perjalanan hidup seseorang, dan jika gelar akademik biasanya diperoleh melalui ruang kuliah, penelitian, dan disertasi, maka gelar kehormatan diberikan.

 

Ruang kuliah itu adalah sejarah bagi Xanana. Ia mengalami kolonialisme, perlawanan, penjara, diplomasi, kemerdekaan, dan kemudian pemerintahan. Perjalanannya menunjukkan bahwa politik bukan hanya tentang mengambil kekuasaan, tetapi juga tentang bagaimana sebuah negara yang hancur belajar berdiri dan membangun masa depan.

 

Oleh karenanya, penganugerahan ini lebih dari sekadar upacara akademik. Tidak hanya universitas yang memberikan gelar Honoris Causa, tetapi juga individu yang menerimanya.

 

Universitas menunjukkan bahwa perjalanan, pemikiran, dan pengabdian seseorang layak diwariskan ketika memilih seseorang untuk penghargaan akademik tertinggi.

 

Xanana akan memasuki jejak panjang itu

 

Presiden ketika Soekarno memberikan gelar Doktor Honoris Causa kepada Unhas pada tahun 1963, ketika

 

Dia masih sangat muda, atas kontribusinya dalam hubungan internasional, termasuk perjuangannya untuk mengembalikan Irian Barat.

 

Setahun kemudian, Chaerul Saleh mendapat penghormatan di bidang sosiologi, dan Mohammad Hatta mendapat penghormatan di bidang ekonomi dan koperasi.

 

Sebagaimana ditunjukkan oleh nama-nama, Unhas sejak awal melihat universitas sebagai bagian dari perjuangan bangsanya. Pengetahuan tidak hanya dipelajari di kampus; itu berasal dari tindakan, keputusan, perjuangan, dan pergulatan manusia dengan zamannya.

 

Pada tahun 2005, Nelson Mandela, seorang figur terkenal di seluruh dunia, muncul. Hidup Nelson Mandela telah berubah menjadi pengalaman kemanusiaan yang luar biasa. Ia berjuang melawan apartheid, menjalani bertahun-tahun dalam penjara, dan akhirnya keluar dari penjara karena ingin rekonsiliasi dengan Afrika Selatan daripada pembalasan.

 

Setahun kemudian, B.J. Habibie menerima penghormatan yang sama. Jika Mandela membawa pesan perdamaian, Habibie membawa keyakinan pada kemampuan Indonesia untuk bersaing dengan negara lain dalam hal teknologi, ilmu pengetahuan, dan kemampuan manusia.

 

Pada tahun 2007, Unhas memberikan gelar kehormatan kepada Najib Tun Abdul Razak—saat itu Wakil Perdana Menteri Malaysia dan kemudian Perdana Menteri ke-6 Malaysia—karena hubungan sejarahnya dengan Sulawesi Selatan.

 

Darah Bugis yang mengalir dari garis keturunannya merupakan bagian dari sejarah migrasi orang Bugis ke Semenanjung Melayu. Seorang pemimpin Malaysia melakukan perjalanan ke Makassar, kota tempat sebagian besar leluhurnya berasal, sehingga kunjungannya memiliki unsur budaya.

 

Kisah Najib mengingatkan kita pada hubungan lama Sulawesi Selatan dengan dunia Melayu.

 

Kemudian ada Muhammad Jusuf Kalla di bidang ekonomi, politik, dan perdamaian; Harifin A. Tumpa di bidang hukum, peradilan, dan hak asasi manusia; dan Bruce Alberts, seorang ilmuwan global, di bidang sains, pendidikan, dan diplomasi ilmu pengetahuan.

 

Ketika nama disusun dalam satu garis panjang, itu disebut pola. Unhas tidak hanya memberikan penghargaan kepada mereka yang menghasilkan informasi, tetapi juga kepada mereka yang menggunakan informasi tersebut sepanjang hidup mereka.

 

Ini adalah tempat Xanana menemukan dirinya sendiri.

 

Meskipun keduanya berasal dari garis keturunan yang berbeda, Mandela meninggalkan kesan pada perjalanan Xanana. Mereka keduanya mengalami kesulitan dan menjalani hukuman penjara. Kemudian mereka menuju pusat kekuasaan dari ruang perlawanan.

 

Pertanyaan tentang bagaimana membangun sebuah negara setelah konflik berakhir lebih rumit daripada menentukan kemenangan dalam perang.

 

Perjuangan mungkin memiliki musuh yang jelas. Membangun perdamaian tidak semudah yang terlihat. Memori, trauma, kepentingan politik, kemiskinan, harapan masyarakat, dan bahkan lawan politik semuanya harus dihadapi. Rekonsiliasi membutuhkan berbagai generasi untuk dicapai, meskipun kemenangan dapat diumumkan dalam beberapa hari.

 

Xanana akrab dengan dunia seperti itu.

 

 

Bapak Xanana Gusmao dan temana-teman Tahanan Politik/ Spesial

Selain itu, lokasi kampus Unhas yang unik adalah menghadap laut Asia Tenggara selama berabad-abad. Dari Makassar, orang, kapal, perdagangan, dan gagasan bergerak ke Semenanjung Melayu, Maluku, Nusa Tenggara, dan Timor.

 

Orang Bugis menyeberangi laut untuk menjadi bagian dari sejarah Malaysia, menurut cerita Najib. Xanana sekarang memiliki pengalaman perjalanan di seluruh negeri karena berasal dari Timor.

 

Universitas adalah tempat yang ideal untuk berbagi pengalaman ini dengan generasi berikutnya.

 

Mahasiswa yang melihat Xanana mengenakan toga kehormatan mungkin mengetahuinya dari buku sejarah. Banyak dari mereka tidak ada saat perjuangan untuk kemerdekaan Timor-Leste berlangsung. Namun, secara visual, sejarah tetap hidup.

 

Gelar kehormatan menjadi penting di sini karena ia bukan hanya menambah nama seseorang. Menurut universitas, perpustakaan tidak menyimpan semua informasi.

 

Sebagiannya ada dalam kehidupan manusia, seperti keberanian untuk membuat keputusan, kemampuan untuk menyelesaikan konflik, kegagalan, berdamai, dan kemampuan untuk melihat ke depan setelah masa lalu yang sulit.

 

Pada 5 September, di Baruga AP Pettarani, Xanana berdiri untuk menyampaikan orasi ilmiahnya dan promotor Prof. Hafid Abbas membacakan pertimbangan akademik.

 

Ada pertemuan antar generasi. Generasi yang telah mengalami masa lalu bertemu dengan generasi yang akan menulis masa depan.

 

Mungkin tujuan terbesar dari gelar kehormatan bukanlah untuk meningkatkan martabat orang yang menerimanya. Dengan cara yang sama seperti Soekarno, Hatta, Mandela, dan Habibie, Xanana juga memiliki tempatnya sendiri dalam sejarah.

 

Universitas, sebaliknya, mengundang sejarah untuk masuk ke kampus agar kenangan lama tidak hanya menjadi kenangan tetapi berubah menjadi pengetahuan. (red/dp)

Friday, 28 August 2026

Presiden Prabowo Terima Presiden Timor Leste di Istana, 20 Peraih Nobel Hadir

Foto Partai Gerindra

 Dilipost.com - Presiden Timor Leste José Ramos-Horta akan mengunjungi Presiden Prabowo Subianto hari ini di Istana Merdeka, Jakarta.

 Untuk mendampingi Prabowo saat dia bertemu dengan José Ramos-Horta di Istana Kepresidenan Jakarta, sejumlah anggota kabinet datang.

 Wakil Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir mengatakan di kompleks Istana Kepresidenan Jakarta pada Jumat (28/8/2026), "Jadi hari ini Presiden Ramor-Horta membawa sekitar 20 delegasi yang merupakan Nobel Laurate, setelah pertemuan mengenai Science di Timor Leste yang diadakan tanggal 24-26."

 Menurut Arramanatha, delegasi yang mendampingi Ramos-Horta terdiri dari penerima Penghargaan Nobel dari berbagai bidang.

 Arrmanatha berkata, "Ada yang dari perdamaian, ilmu pengetahuan, kimia, makanan, dan lain-lain."

 Prabowo juga diundang oleh Arif Satria, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yang menyatakan bahwa dia akan mendampingi Prabowo. 

Arif menyatakan, "Dan ya biasanya sih setelah itu ada beberapa hal yang ingin dibicarakan terkait dengan situasi terbaru, kemudian apa yang bisa disumbangkan BRIN untuk menjadi solusi."

Brian Yuliarto, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, mengatakan bahwa pertemuan hari ini di Istana mungkin membahas kerja sama di bidang pendidikan, terutama di bidang pendidikan tinggi.

Brian menyatakan, "Dan juga mungkin dengan peraih Nobel tentunya kan kita sangat ingin kualitas riset kita naik."

Brian berbicara tentang kemungkinan pertukaran pelajar dan berharap Indonesia dapat belajar banyak dari para peraih nobel.

Brian menyatakan, "Oh ya, kita bisa mengirimkan mahasiswa S3 kita, itu cara terbaik untuk belajar dari ilmuwan-ilmuwan peraih nobel. Oh sudah tuh ilmuwannya."

Saturday, 27 June 2026

Francisco Guterres “Lú Olo” Mantan Presiden Timor-Leste meninggal dunia

 


Setelah mendapatkan perawatan kesehatan intensif di Rumah Sakit Prince Court di Kuala Lumpur, Malaysia, mantan presiden Francisco Guterres “Lú Olo” meninggal dunia pada Minggu (21/06) malam.

 

Pada Minggu (21/06) malam, Laman Resmi "Pájina Ofisiál Francisco Guterres Lú Olo" mengumumkan kabar duka tentang wafatnya Ketua Umum Partai FRETILIN, serta mantan Ketua Majelis Konstitusi Republik Timor-Leste dan mantan Ketua Parlemen Nasional.

 

Laman resmi Partai FRETILIN, yang dapat diakses Dilipost.comi, mengumumkan berita duka cita sebagai berikut: “Dengan kesedihan mendalam dan duka cita, keluarga mengumumkan bahwa Bapa Ketua Umum Partai FRETILIN, Mantan Presiden RDTL, Mantan Ketua Majelis Konstitusi dan Mantan Ketua Parlemen Nasional, Dr. Francisco Guterres Lú Olo, telah meninggal dunia hari ini, di Rumah Sakit Prince Court, Kuala Lumpur, Malaysia, setelah menjalani perawatan kesehatan intensif.

 

Laman web tersebut menyatakan bahwa "Kepergiannya merupakan kehilangan besar yang tak tergantikan bagi istri, anak-anak, dan seluruh keluarganya, bagi Partai FRETILIN, bagi rekan-rekan seperjuangannya, dan bagi semua orang yang berbagi dan membangun Timor-Leste yang merdeka, demokratis, dan berdaulat."

 

Dalam berita duka cita, Laman resmi menyatakan, "Kami meminta semua orang untuk menghormati privasi keluarga di saat yang sulit ini, mari kita bersama memanjatkan doa dan memberikan penghormatan kepada mendiang."

 

Kami menyampaikan rasa terima kasih terdalam kami kepada semua yang telah menunjukkan solidaritas, persahabatan, dan dukungan kepada keluarga di masa berkabung dan duka cita ini. Keluarga Nobre dan Guterres mengirimkan berita duka cita.

 

Francisco Guterres "Lú Olo", Presiden Republik Demokrat Timor-Leste (RDTL), lahir di Ossu, Distrik Viqueque, pada tanggal 7 September 1954.

 

Setelah menikah dengan Cidália Lopes Nobre Mouzinho Guterres, Lu Olo memiliki empat anak: Francisco Cidalino, Eldino Nobre, Felezito Samora Guterres, dan Dália Luliana Nobre Guterres.

 

Lú Olo belajar di Kolese Santa Teresinha di Ossu dari tahun 1963 hingga 1969, dan selama itu ia dididik oleh para pastor Salesian. Pada tahun 1969, ia menyelesaikan sekolah "quarta classe" (kelas empat).

 

Lú Olo masuk Liceu di Dili pada tahun 1969 dan belajar di sana hingga tahun 1973. Kemudian dia kembali ke Colégio Santa Teresinha sebagai pengawas hingga tahun 1974. Pada tahun 1974, dia kembali ke Dili untuk melanjutkan pendidikannya, tetapi dia tidak menyelesaikannya karena bergabung dalam Perjuangan Melawan Kolonialisme Portugis.

 

Lú Olo tidak sempat melanjutkan studinya. Namun, dia kembali kuliah hukum pada tahun 2007 dan lulus pada tahun 2012 di Universitas Nasional Timor Lorosa'e (UNTL).

 

Ia bergabung dan berpartisipasi secara eksklusif dalam Perjuangan Pembebasan pada tahun 1974. Pada tahun 2000, ia berkomitmen untuk mereorganisasi partai FRETILIN dan mempersiapkan partai untuk era demokrasi setelah kemerdekaan. Dia adalah salah satu dari empat Komandan yang tersisa dalam kelompok yang tinggal di hutan selama 24 tahun selama perang perlawanan.

 

Lú Olo menjabat sebagai Ketua Majelis Konstitusi dari tanggal 15 September 2001 hingga 20 Mei 2002, saat dia menulis dan menyetujui Konstitusi RDTL, yang menjadikannya " Panduan Konstitusi RDTL". Pada 20 Mei 2002, dia kembali menjabat sebagai Ketua Parlemen Nasional RDTL dari tahun 2002 hingga 2007.

 

Lu Olo dihormati sebagai pemimpin perlawanan yang berhasil melakukan transisi dari seorang pejuang menjadi seorang pemimpin di era Pemerintahan Konstitusional dan Supremasi Hukum Demokratis.

 

Nah Itu Dia!!!

Teknologi

International

Entertainment


Opini

Lifestyle


Travel

Politik


Olahraga

© Copyright . dilipost.com | All Right Reserved

Develop by Micro IT .NET Technology